Apa Itu Doom Spending? Alasan Anak Muda Sulit Nabung Rumah

Apa Itu Doom Spending? Alasan Anak Muda Sulit Nabung Rumah

Pernahkah kamu merasa saat melihat saldo di m-banking setelah gajian, tiba-tiba ada dorongan kuat untuk membeli sepatu bermerek yang harganya jutaan, atau memesan tiket pesawat liburan di akhir pekan? Padahal, kamu sadar juga bahwa kamu masih bayak keperluan lain, seperti menabung untuk uang muka rumah.

Jika kamu masih sering merasakan hal ini, kamu tidak sendirian. Di penghujung tahun ini, banyak anak muda, khususnya Gen Milenial dan Gen Z yang terjebak dalam fenomena yang bisa disebut dengan istilah “Doom Spending”.

Yuk, kita bahas lebih lanjut mengenai fenomena ini, dan bagaimana solusinya tanpa harus merasa menderita.

Apa Itu Doom Spending?

Doom spending berasal dari kata “doom” yang berarti kehancuran atau keputusasaan, dan “spending” yang berarti pengeluaran. Jadi, secara harfiah, ini adalah perilaku belanja secara impulsif yang dipicu oleh rasa pesimis terhadap masa depan ekonomi.

Istilah ini berbeda dengan retail therapy, yang biasa dilakukan untuk sekadar melepas penat setelah seminggu bekerja. Dom Spending memiliki nuansa yang lebih menghawatirkan bagi penderitanya.

Bayangkan Anda melihat harga rumah di pinggir Jakarta yang sudah menyentuh angka miliaran rupiah, sementara gaji kamu hanya naik beberapa persen setahun. Ada perasaan menyerah yang muncul, seperti “Ah, sampai mati pun saya nggak bakal bisa beli rumah itu, mending uang ini saya pakai buat beli iPhone terbaru atau makan mewah sekalian.”

Fenomena ini viral di sosial media seperti X dan TikTok. Banyak anak muda yang menceritakan bahwa mereka sangat menikmati hidup sekarang karena ketidakpastiaan masa depan mereka. Menurut analisis dari berbagai media keuangan dunia, doom spending adalah bentuk pemberontakan psikologis terhadap mimpi kepemilikan rumah yang dirasa sudah tidak terjangkau lagi.

Mengapa Generasi Sekarang Merasa Terjebak?

Ada beberapa alasan mengapa fenomena ini makin banyak terjadi nanti saat kita memasuki tahun 2026. Pertama, tentu aja karena jurang antara harga properti dan pendapatan. Saat ini, rata-rata harga rumah naik 10-15% per tahun. Sementara, kenaikan gaji rata-rata (UMP) hanya berada di kisaran 5-7%. Secara matematika dan logika, menabung dengan cara biasa sudah tidak lagi mampu mengejar kenaikan harga aset.

Kedua, adalah tekanan media sosial dan gaya hidup. Kita hidup di era di mana setiap detik kita melihat orang lain memamerkan kemewahan. Algoritma Instagram dan TikTok sering kali membuat kita merasa bahwa standar hidup yang normal adalah liburan tiap bulan dan memakai barang bermerek. Tekanan untuk terlihat sukses akhirnya memicu pengeluaran impulsif demi menjaga gengsi, meskipun itu berarti mengorbankan masa depan.

Ketiga, ketidakpastian global. Isu resesi, konflik geopolitik, hingga perubahan iklim membuat banyak anak muda merasa dunia sedang tidak baik-baik saja. Pencarian kenyamanan instan lewat belanja menjadi semacam coping mechanism atau cara untuk menenangkan diri dari kecemasan yang mendalam.

Dampak Nyatanya Cicilan Rumah yang Makin Jauh

Masalahnya, doom spending ini adalah lubang hitam bagi tabungan. Mari kita buat ilustrasi sederhana. Katakanlah kamu punya gaji Rp10 juta per bulan. Jika kamu terjebak doom spending dengan menghabiskan 30% dari gaji hanya untuk kesenangan impulsif yang sebenarnya tidak perlu, kamu kehilangan Rp3 juta setiap bulan. Dalam setahun, itu adalah Rp36 juta.

Dalam tiga tahun, yang harusnya bisa mengumpulkan lebih dari Rp100 juta untuk modal DP rumah sederhana. Namun, karena uang itu habis untuk kopi kekinian, skincare berlebih, dan gonta-ganti gadget, modal tersebut hangus begitu saja.

Di kota besar seperti Jakarta, rumah sederhana sudah menyentuh harga Rp2 miliar, perilaku ini makin memperlebar kesenjangan kekayaan. Jika terus dibiarkan, generasi muda di tahun 2026 akan benar-benar menjadi “generasi penyewa” selamanya karena tidak punya modal awal untuk memiliki aset sendiri.

Meskipun, masa depan ekonomi di tahun 2026 memang penuh tantangan, tapi bukan berarti kita harus menyerah pada keadaan. Doom spending mungkin terasa enak di awal karena memberikan kepuasan instan, tapi rasa cemas akan kembali saat kita sadar tidak punya pegangan untuk masa tua.

Mari kita ubah pola pikirnya, rumah mungkin mahal, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dimiliki selama kita punya kendali atas dompet kita sendiri. Masa depan finansial kamu tidak ditentukan oleh seberapa mewah gaya hidup kamu di media sosial hari ini, melainkan oleh seberapa kuat disiplin Anda dalam menyisihkan modal untuk masa depan.